Bernafas lega menghirup
hamparan kesucian dihari itu, memandang kesejukan kala kembali mensucikan diri
karena sikap dan perbuatan yang mencekik kerabat dengan disengaja ataupun tidak
disengaja, itu pun tanpa mengorbankan diri untuk mengetuk pintu hati dan meluncurkan
ego – ego yang bergengsi tinggi, tak nyana aku kembali berfikir khilafku yang
berseteru dengan senyuman. Masihkah berfikir untuk jiwa nurani yang alim ?. Aku
masih merindukan hal –hal yang membangun cakrawala, dengan menahan hasrat
kesegaran mengalir lewat tenggorokan dan sepotong makanan yang kubawa kedalam
energi perutku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar